CerPen · Fiksi · Lama

[Cerpen] Surat Cinta di Hati

Bertemu lagi dengannya bukan hal yang aneh. Toh reuni-reuni kecil seperti ini memang cukup sering diadakan oleh angkatan kami. Tapi malam itu, ada yang berbeda.

Aku sekelas dengannya di tahun keduaku di SMP. Ia menjadi ketua kelas, aku sekretaris. Wakilnya entah siapa, aku lupa, pun bendaharanya. Semua tidak penting lagi. Bahkan ia pun tidak penting lagi bagiku. Hingga ia menguak segalanya.

“Van, antar Yaya pulang ya? Gue nggak bisa. Bini minta jemput di rumah emaknya,” seru Darma, teman yang biasanya mengantarku pulang. Duh, kenapa menyuruh dia sih?!

“Eh, nggak usah. Nggak apa-apa lagi. Gue bisa naik taksi.”

Ivan menoleh ke arahku. “Sombong amat sih. Diantar aja nggak mau.”

“Bukan gitu…” Aku segera membela diri, pembelaan yang tidak ia terima, sehingga ia memaksa untuk mengantarku pulang.

“Masih tinggal di daerah yang sama?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Masih di rumah nyokap.”

“Oh…”

“Gue udah pisah. Dua tahun yang lalu. Korban selingkuh.” Duh, kenapa juga harus kuceritakan kepadanya?

surat-cintaIa mengangguk-angguk. Kudengar, pernikahannya sempurna. Istrinya wanita karir dengan kecerdasan luar biasa dan perhatian yang besar atas anak-anak mereka.

Lama kami terdiam. Lalu, ia angkat bicara. “Minta pin, dong.”

Kuberikan kepadanya, dan tak lama kemudian, kami tiba di depan rumah mamaku.

“Ya, lo inget surat yang pernah lo kasih ke gue?” tanyanya sambil memiringkan tubuh, menghadapiku.

“Surat?” Aku agak bingung.

“Iya, yang lo kasih ke gue setelah pelajaran olahraga, di depan kelas. Surat cinta,” godanya.

Ya ampun! Dia masih ingat! Aku saja sudah melupakannya. Ok, aku memang pernah menyukainya. Tapi kami selalu bertengkar. Di mataku, sebagai ketua kelas, ia tidak bertanggung jawab. Di matanya, aku sekretaris kelas yang terlalu suka mencampuri urusannya, terlalu keras. Itu karena aku menuruti permintaan wali kelas untuk menuliskan nama anak-anak yang keluar kelas saat tidak ada guru – yang setelah kupikir-pikir memang menyebalkan juga tingkahku itu.

“Surat cinta?” tanyaku lagi, kali ini pura-pura.

“Ih, lupa dia. Ya sudah lah.”

Fiuh!

“Oke deh, Van. Makasih ya. Hati-hati.” Aku pun keluar dari mobil dan melenggang ke arah pagar rumah, melambaikan tangan ke arahnya. Mobilnya melaju.

Surat cinta…duh, aku bahkan tidak ingat apa saja yang kutulis untuknya. Karena, seingatku, tak lama setelah itu aku jatuh cinta kepada cowok lainnya. Ya, namanya juga anak SMP. Cinta monyet, cinta platonis, hal yang biasa, bukan?

Tak lama setelah aku berganti pakaian, BB-ku diserbu pesan darinya. Kami pun mengobrol. Lama. Terbersit di kepalaku, tahukah istrinya? Sebagai korban perselingkuhan, aku tidak mau menjadi pelakunya, tentu saja. Akhirnya kuputuskan untuk mendiamkan pesannya.

Hingga dua hari kemudian. Ia meneleponku. Tahu dari mana ia nomorku? Ah, bodoh! Tentu saja dari daftar hadir yang sudah diketik ulang dan diunggah ke grup facebook angkatan kami. Mudah saja.

“Bukan. Aku dapat dari Darma.”

Ah, Darma!

“Aku jemput ya? Lagi bosen nih, nggak ada kerjaan.”

Tentu aku menolak. Sudah jam delapan malam. Anakku memang sudah terlelap. Tapi tubuhku juga butuh istirahat. Akhirnya, kami kembali mengobrol di telepon.

“Surat yang kamu kirim ke aku masih aku simpan lho. Di rumah orang tuaku.” Oh, sungguh sebuah informasi yang penting!

“Isinya apa sih? Aku lupa.” Ting! Aku? Kok aku ber-aku? Kami ber-aku? Duh!

“Ya ungkapan perasaan kamu.”

Wajahku memanas. Sial! Dasar ABG konyol. Aku malu sekali dengan kelakuanku dulu. Surat cinta? Kepada seseorang yang tidak menyukaiku? Ya, saat itu dia sedang mengejar anak perempuan lainnya, juara kelas sebelah.

“Hm…”

Ia tertawa. “Tadinya mau aku balas.”

“Terus?”

“Ya nggak jadi aja. Aku malah musuhan kan sama kamu setelah itu?”

“Iya.”

Kami musuhan. Tapi aku ingat, dua tahun kemudian, ia datang ke rumahku, tentu bersama teman lainnya. Seakan ia sudah melupakan semua permusuhan dan pertengkaran kami, ia membawakan buku untukku. Novel. Semestinya saat itu aku tahu, ia ada perhatian untukku. Tapi aku masih terlalu polos. Lalu, sekarang? Apa arti semua pesan itu? Apa arti telepon ini? Apa arti ajakannya tadi?

“Ya,” panggilnya.

“Ya?”

“Kok diem?”

Aku menghela nafas. “Kamu kenapa sih mengungkit semua? Ngajak ketemu, telepon lama-lama? Sebentar-sebentar kirim pesan?”

“Ya pingin aja.”

“Aku nggak pingin. So, tolong jangan lakukan lagi.”

“Kenapa?”

“Kamu tahu aku bercerai karena sebuah perselingkuhan. Kamu pikir aku cukup bodoh untuk mau menjadi pelakunya?”

“Hm…”

“Udahan ya?” pintaku.

“Oke.”

Bye.”

Ia tak menjawab. Telepon segera kumatikan. Selamat tinggal kenangan, pikirku.

Ternyata, tidak begitu adanya. Kenangan akan pertemuan kembali dengannya, akan surat cintaku kepadanya, tidak sudi mengucapkan selamat tinggal kepadaku. Semua hadir kembali lagi dan lagi di benakku pada setiap kesempatan saat aku tidak sedang disibukkan oleh sesuatu.

Dan, sore itu, saat sedang menikmati rujak dengan teman-teman kantor di pantry kantor kami yang luas, ada pesan darinya di BB-ku. Tidak kubuka. Tapi, satu jam kemudian, aku melihat ada perubahan pada status BB-nya, the beauty of a memory. Lalu, foto profilnya pun berganti, fotonya saat SMP dulu! Ah, ia benar-benar sedang memancingku. Dia pikir aku akan meluangkan waktu untuk meladeni gaya ABG-nya? Maaf, Tuan Besar yang masih suami orang, silakan cari korban lainnya saja!

Tak urung, aku memarahi Darma karena memberikan nomor teleponku. Tapi Darma juga mengingatkan bahwa aku yang memberikannya pin BB-ku. Iya juga sih. Tapi aku yakin, ia pasti merasa mendapat angin karena Darma memberikan nomorku begitu saja.

“Emangnya kenapa sih, Ya? Masih suka kali dia sama elo?!”

“Sembarangan! Gue paling anti ya deket sama suami orang! Jangan mentang-mentang gue janda, lo pikir gue mau aja dideketin gitu?!”

“Weits…weits…Non, jangan marah-marah, atuh. Sorry…sorry. Maksud gue bukan gitu. Lagian…suami orang? Dia udah nggak punya istri kok.”

“Hah?”

“Makanya…jangan sok ngomel dulu.”

Kenapa ia tidak menceritakannya kepadaku? Istrinya ke mana? Saking terkejutnya, aku tak menanyakan kepada Darma, apakah istrinya sudah tiada atau mereka sudah bercerai. Namun semua tidak penting lagi. Ia tidak pernah menelepon ataupun mengirimkan pesan. Hanya, ia kerap mengganti foto profil dan statusnya.

 * * *

Tiga bulan berlalu. Reuni kecil SMP kami kembali diadakan. Aku datang karena Darma bersikukuh bahwa Ivan tidak akan datang.

Rasanya aku ingin sekali menjitak kepala Darma saat Ivan melenggang ke meja kami. Namun kulihat Darma pun melongo. Lalu, ia menatapku, matanya seakan berkata, gue bener-bener nggak tau!

Sialnya, kursi di sebelahku kosong. Ia duduk di sana.

“Apa kabar, Ya?”

Aku tersenyum samar. “Baik.”

Lalu, ia berbincang dengan yang lain. Aku pun begitu. Darma terus memandangi kami. Aku memelototinya. Ia mengalihkan pandangan.

“Eh ya, guys. Datang ya.” Ivan mengeluarkan sebuah amplop merah muda.

“Wow!” seru Doni. “Gile lu, gue belum sekali pun, lo udah mau dua kali aja!”

“Makanya, Don, kawin!” goda yang lain.

Aku terkesiap. Menikah? Entah apa yang tergambar di wajahku, ia memandang ke arahku.

“Datang ya, Ya?”

Belum sempat ku menjawab, Darma sudah bertanya, sambil membaca isi undangan. “Lo married sama Rosita yang anak basket SMA kita?”

Aku tidak kenal Rosita yang Darma sebut, karena aku dan mereka memang beda sekolah saat SMA.

“Hehe…iya. Gue ketemu lagi sama dia enam bulan yang lalu. Tiga bulan yang lalu, nggak lama setelah reuni kita waktu itu, gue jadian.” Kemudian, ia menoleh ke arahku. “Untung ada seseorang yang menyadarkan gue, bahwa kalau sudah memilih, gue nggak boleh main-main lagi atau nakal-nakal dengan yang lain. Gue seriusin deh.”

“Gile…congrats, Man!” seru Doni. “Entar kalo ada acara lempar bunga, gimana caranya gue nggak mau tahu, lo harus lempar ke gue ya?!”

Mereka terbahak.

 * * *

Mataku masih bengkak. Ya, aku menangis. Bodoh memang. Tapi sungguh aku menyesali kejadian ini, kehilangan dirinya untuk yang kedua kalinya. Aku juga merasa bodoh. Statusnya tentang memori, foto lamanya. Semua untuk si Rosita itu. Bukan untukku. Bodoh!

Ping! Ada pesan darinya.

Yaya, asal kamu tahu, surat kamu tidak akan pernah lepas dari hatiku. I still love you.

Ah!!!

– Dilarang meng-copy paste isi cerpen.
– Gambar dari: SINI

Advertisements

2 thoughts on “[Cerpen] Surat Cinta di Hati

Silakan sharing di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s